Setiap orang mengharapkan sebuah keajaiban di dalam hidupnya. Siapa yang tidak mau? Tetapi sadarkah bahwa setiap detiknya manusia selalu menerima keajaiban itu sendiri?
Entah kenapa, di penghujung tahun ini, sudah hampir jam 3 mata ini tidak juga mengantuk. Padahal, dari niat yang aku inginkan hari ini, untuk lebih banyak beristirahat, tidak juga terlaksana. Tidak ataukah sedang terlaksana.
Kembali ke permasalahan keajaiban itu, aku mulai tersadar atas apa yang aku lakukan saat ini. Jika hidup adalah pilihan, mungkin sesaat lalu aku berfikir aku telah salah memilih. Buktinya apa yang aku jalanin sekarang tidaklah mudah.
Tetapi jika aku punya satu permintaan, apakah aku akan meminta aku kembali dimana aku memulai hidupku dan membereskan semuanya? Hingga saat ini aku akan berkata tidak. Itu namanya aku tidak bersyukur dan menerima keadaan hari ini. Dan aku menghargai hidup yang sekarang aku perankan sebagai salah satu pilihanku yang terbaik pada saat ini.
Dimanakah ukuran kita menyebutkan bahwa pilihan ini adalah benar atau salah? Apakah dengan aku tidak bahagia dengan pilihan tersebut, atau aku sengsara saat ini? Dan menyebutkan dunia tidaklah adil padaku?
Kusutnya permasalahanku pada saat ini adalah hasil dari pilihan terbaikku pada saat lalu dan menjadi tidak baik pada masa sekarang. Tetapi apakah semua permasalahan yang buruk itu tidaklah baik untukku? Seberapa jauhkah aku belajar dari keadaan sekarang? Karena aku percaya sesulit apapun permasalahan selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik.
Bahkan beberapa kali jalan keluar itu terbentang di depanku, tetapi kadang aku tidak mau meraihnya. Bukankah itu menjadikan permasalahanku tidak pernah terselesaikan? Karena Tuhan telah banyak memberikan nikmatnya kepada hambaNya.
Memperturutkan nafsu untuk memiliki apa yang aku mau kadang membuatku diperbudak oleh nafsu itu sendiri. Kematerian yang kerap kali menyapa, membuat patokan tinggi terhadap suatu dasar dari sebuah kualitas yang baik dan kesuksesan. Apakah itu yang aku maksud?
Cara menata hidupku sendiri saat ini, sehingga tidak terasa membuat tubuh menjadi besar dan kadang kala membuat rasa rendah diri menguasai alam pikiran logikaku. Apa salahnya menjadi gendut jika memang itu pilihanku untuk memakan makanan yang aku suka? Lalu kenapa aku sekarang mengeluh?
Lalu berantakannnya kamarku seakan menandakan kekalutan aku terhadap waktu yang menurutku tak mampu memuat seluruh mauku dan aktifitasku. Lalu disini, siapa yang merasa rugi? Aku sendiri bukan? Walau pun itu adalah buah dari rasa malasku dan jarangnya aku duduk berdiam di kamarku lagi. Bukan waktu yang salah, tetapi akunya yang tidak dapat mengatur secara efisien.
Hingga pada saat pikiran menyerukan hal yang dapat dan harus aku lakukan, kerap kali tidak aku lakukan karena rasa malasku dan engganku untuk mengisi hidup. Lalu kenapa aku harus menangis meraung-raung kalo aku telah salah memilih jalan?
Sungguh, keajaiban itu datang setiap saat bagi siapa saja yang merasakannya. Menyadari bahwa kita melakukan yang terbaik saat ini, merupakan salah satu bentuk keajaiban yang akan menjadi sebuah kebahagiaan dalam kepasrahan dan keikhlasan dalam hidup.
Dan setelah adanya keajaiban tersebut, akan ada keajaiban lagi yang akan hadir di dalam kehidupan kita. Yang penting, janganlah kita pernah berhenti untuk terus berdoa dan berharap.