Feed on
Posts
comments

Perubahan dan Waktu

Tak terasa dah hampir 1 tahun aku tidak memeriksa friendster lagi. Selain memang banyak kerjaan, ternyata maraknya facebook or lainnya membuat friendster terasa terlalu kuno untuk dilihat.

Dan ternyata, sudah banyak hal yang berubah. Baik akunya sendiri bahkan juga orang-orang disekitarku.

Tetapi itulah hidup.. perubahan yang ada menandakan waktu berjalan dan aku hidup. Alhamdulillah…

Keajaibanku

Setiap orang mengharapkan sebuah keajaiban di dalam hidupnya. Siapa yang tidak mau? Tetapi sadarkah bahwa setiap detiknya manusia selalu menerima keajaiban itu sendiri?

 

Entah kenapa, di penghujung tahun ini, sudah hampir jam 3 mata ini tidak juga mengantuk. Padahal, dari niat yang aku inginkan hari ini, untuk lebih banyak beristirahat, tidak juga terlaksana. Tidak ataukah sedang terlaksana.

 

Kembali ke permasalahan keajaiban itu, aku mulai tersadar atas apa yang aku lakukan saat ini. Jika hidup adalah pilihan, mungkin sesaat lalu aku berfikir aku telah salah memilih. Buktinya apa yang aku jalanin sekarang tidaklah mudah.

 

Tetapi jika aku punya satu permintaan, apakah aku akan meminta aku kembali dimana aku memulai hidupku dan membereskan semuanya? Hingga saat ini aku akan berkata tidak. Itu namanya aku tidak bersyukur dan menerima keadaan hari ini. Dan aku menghargai hidup yang sekarang aku perankan sebagai salah satu pilihanku yang terbaik pada saat ini.

 

Dimanakah ukuran kita menyebutkan bahwa pilihan ini adalah benar atau salah? Apakah dengan aku tidak bahagia dengan pilihan tersebut, atau aku sengsara saat ini? Dan menyebutkan dunia tidaklah adil padaku?

 

Kusutnya permasalahanku pada saat ini adalah hasil dari pilihan terbaikku pada saat lalu dan menjadi tidak baik pada masa sekarang. Tetapi apakah semua permasalahan yang buruk itu tidaklah baik untukku? Seberapa jauhkah aku belajar dari keadaan sekarang? Karena aku percaya sesulit apapun permasalahan selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik.

 

Bahkan beberapa kali jalan keluar itu terbentang di depanku, tetapi kadang aku tidak mau meraihnya. Bukankah itu menjadikan permasalahanku tidak pernah terselesaikan? Karena Tuhan telah banyak memberikan nikmatnya kepada hambaNya.

 

Memperturutkan nafsu untuk memiliki apa yang aku mau kadang membuatku diperbudak oleh nafsu itu sendiri. Kematerian yang kerap kali menyapa, membuat patokan tinggi terhadap suatu dasar dari sebuah kualitas yang baik dan kesuksesan. Apakah itu yang aku maksud?

 

Cara menata hidupku sendiri saat ini, sehingga tidak terasa membuat tubuh menjadi besar dan kadang kala membuat rasa rendah diri menguasai alam pikiran logikaku. Apa salahnya menjadi gendut jika memang itu pilihanku untuk memakan makanan yang aku suka? Lalu kenapa aku sekarang mengeluh?

 

Lalu berantakannnya kamarku seakan menandakan kekalutan aku terhadap waktu yang menurutku tak mampu memuat seluruh mauku dan aktifitasku. Lalu disini, siapa yang merasa rugi? Aku sendiri bukan? Walau pun itu adalah buah dari rasa malasku dan jarangnya aku duduk berdiam di kamarku lagi. Bukan waktu yang salah, tetapi akunya yang tidak dapat mengatur secara efisien.

 

Hingga pada saat pikiran menyerukan hal yang dapat dan harus aku lakukan, kerap kali tidak aku lakukan karena rasa malasku dan engganku untuk mengisi hidup. Lalu kenapa aku harus menangis meraung-raung kalo aku telah salah memilih jalan?

 

Sungguh, keajaiban itu datang setiap saat bagi siapa saja yang merasakannya. Menyadari bahwa kita melakukan yang terbaik saat ini, merupakan salah satu bentuk keajaiban yang akan menjadi sebuah kebahagiaan dalam kepasrahan dan keikhlasan dalam hidup.

 

Dan setelah adanya keajaiban tersebut, akan ada keajaiban lagi yang akan hadir di dalam kehidupan kita. Yang penting, janganlah kita pernah berhenti untuk terus berdoa dan berharap.

 

Memilih

Bagaimanakah rasanya menunggu kematian itu?

Lalu apakah kematian itu?

Dan bagaimana memilih antara mati untuk buah hati dan hidup untuk orang yang dicintainya?

 

Dimanakah bisa kutemukan kedamaian diantara keduanya?

Untuk menjadi aku dan tiada

 

Aku adalah kematian itu sendiri

Dan hidup serta kematian itu adalah hampa

 

Dimana aku meletakkan ego dan perasaan ini

Untuk berteriak lantang kepada Langit

 

Untuk memilih mati

Untuk memilih hidup

Untuk memilih diam

 

Dan untuk memilih Cinta……..

Iklan Mewarnai Hidup

 

Rasanya baru sebulan aku ndak melihat dan membaca Koran Tercetak, hanya membuka situs2 yang mudah dicari dari internet. Yang tanpa iklan bahkan langsung pada kategori yang aku mau.

 

Dan setelah membaca koran kembali, ternyata yang membuat kangen diriku adalah banyaknya iklan serta apa saja acara-acara yang akan terselenggara di jakarta ini. Mulai dari acara seminar hingga diskon dari perumahan hingga produk-produk terkenal ataupun makanan.

 

Kadang membaca iklan, membuat hidup lebih berwarna.

sumber: http://journalistopia.com/wp-content/uploads/2008/04/newspaper-pages.jpg

Kala Hujan

 

Yang aku suka dari kehadiran hujan adalah kehadirannya yang dapat membuatku merasa sadar akan keberadaanku di dunia. Belaiannya saat menyentuh kulitku, memberikan gambaran bentuk hati seutuhnya. Untuk terus menjadi air.

 

Tetaplah terus membasahi bumi yang semakin kekeringan akan rasa. Membasahi jiwa yang haus akan kenikmatan, walau sebenarnya apa yang telah dilaluinya penuh dengan berkah. Karena manusia telah lalai untuk mendengarkan kata hati.

 

Memainkan rasa senang tak kala tetesan jatuh pada raga yang telah banyak mengarungi waktu, atau bahkan mejadi teman saat menangis tanpa orang dapat melihatnya.

 

Aku, hujan dan air. Lalu datang angin, badai dan bencana. Dan menjadikan aku ada dan tiada.

 

Lalu hujan pun berhenti, mengembalikan matahari pada wajah dunia. Membawa semua mimpi dan harapan menjadi sebuah tujuan dan takdir. Membangkitkan tiap sel tubuhku untuk kembali mengarungi waktu, hingga abis masaku.

 

Dan cerita akan terus bergulir…

 

Sumber Gambar: http://www.lc.capellauniversity.edu/~142403/water%20green%20drop.jpg

Mbelink#2

Pernah merasakan ingin menyampaikan sesuatu tetapi ndak tahu apa yang ingin disampaikan? Aku pernah. Tidak tahu mo teriak apa, tapi kalo diam rasanya tidak bisa berdiam lama.

Hehehehe… iseng aja.

Selamat buat yg punya presiden baru. Indonesia kapan ya? eh mungkin lebih tepatnya, kapan rusuh2 lagi? hahahaha

::peace::

Memaafkan Diri Sendiri

Tahukah bagaimana rasanya rasa amarah, penyesalan dan kekecewaan menjadi satu? Memberikan diri standar yang tinggi dengan patokan tanpa batasan, kadang membuat hidup berasa berat bahkan menjadi beban.

Dan sejauh apa hati menghakimi diri sendiri dalam keakuan? Bagaikan menampar udara kosong yang akan membuat perasaan semakin mendidih penuh ketidakpuasan.

Patah hati, terlukanya harga diri, merasa diri lebih baik dan lainnya, seakan memojokkan hati dan akal pikiran menjadi sesuatu yang tidak layak dipandang dengan penuh kasih.

Kegelisahan bahkan menjadi dorongan untuk menghabisi masa hidup di dunia kian menjadi berita yang sering terdengar belakangan ini Sayangku.

Diluar semua tuntutan itu, sudahkah mau memaafkan diri sendiri? Menerima segala kekuarangan dan tetap berjalan dengan apa adanya?

Sumber foto: http://www.michaelbach.de/ot/sze_moon/moon-0.jpg

Lepaskan Topengmu

Musuh terbesar manusia adalah diri dia sendiri. Itulah kata beberapa buku pengembangan diri dan dunia sufi yang sering aku baca. Bahkan Seorang Syaikh pernah berkata di depanku, “Kembali ke Dalam, Kembali ke Dalam”. Dan beberapa waktu berjalan ini, barulah aku rasakan apa makna dari arti sebuah kata itu.

Manusia terlahir lengkap dengan nafsu dan hati nurani. Coba saja, saat kita berjalan dalam 5 menit, kita dengarkan apa kata kata hati kita. Kadang kita mengutamakan akal, logika, norma bahkan nilai-nilai agama untuk mengomentari sesuatu yang dilihat, tapi tahukah bagian mana yang menjadi bagian dari nafsu atau hati nurani?

Lalu, apakah pernah kita perhatikan seseorang yang sepertinya menyimpan sesuatu di balik sikapnya yang bijaksana? Bukan ingin menuduh, tapi akan sangat terasa bahwa apa yang ada di luar beda dengan apa yang ada didalam.

Bagaikan topeng yang sudah menyatu dengan kulit, akan sulit untuk dipisahkan.

Tapi bisa loh kalo kita mo ganti-ganti topeng sesuka hati… cuman jika sering berganti topeng, tahukah kita seperti apa diri kita tanpa ada topeng?

Sumber foto: http://kebudayaan-jatim.go.id/file/rupa/topengmalang.JPG

Note: ilustrasi diatas hanya ingin menampilkan ilustrasi manusia dengan topeng, bukan hal negatif dr foto tersebut loh ya… :)

Loved and Be Loved

 

Aku lupa, apakah judul ini sudah pernah aku keluarkan sebelumnya, tetapi sebenarnya si aku ndak perduli, ingin mengekspresikan sekali lagi apa yang aku syukuri saat ini.

Seperti bait lagi Tompi, Menghujam Jantungku, dimana dia dengan lugasnya bercerita tentang indahnya mencintai dan dicintai, dan cintanya seperti candu, bahkan lainnya, bagaikan penyejuk di hatiku saat ini.

Segala masalah yang kadang datang silih berganti, berganti kembali dengan kemudahan-kemudahan yang membuat diri sadar untuk terus mengetuk keras pintu hati untuk terima semua apa adanya dan terus berikhtiar atas semua harapan.

Seperti dengan hadirnya dirinya yang bagaikan pesan berantai hingga sampailah pesan Langit itu kepadaku dan menjadikannya seseorang yang aku cintai dan mencintai ku untuk membagi susah dan senang. Dengan proses yang ada, belajar untuk memahami juga untuk lebih menerima segala kekurangan diri masing-masing dan mengukuhkan satu janji dan doa.

Dan jika ada orang yang ingin mengusik keberadaan kita berdua? Aku kembalikan segalanya kepada Penciptaku yang Maha Adil untuk memberikan kasihnya dan menjaga agar segala sesuatu itu pada tempatnya. Dan menjadikan semuanya indah pada waktunya.

Karena aku manusia, yang hanya bisa berdoa dan berusaha untuk apa yang ingin aku lalui. Dan menjadi ikhlas untuk segala cobaan yang akan datang menerpa.

Turut mendoakan bagi teman-teman yang ada disekelilingku untuk bisa melihat dengan hati dan menerima diri apa adanya hingga dapat mencintai dan dicintai with no reason.

Luv u so much Say ;)

Sumber: http://www.layoutspage.com/userpics/layouts/thumbnail/i122FD240.jpg

“Hi Guys, btw ndak ada dr elo2 pada yang mo nikah kan dalam sisa tahun ini?” tanyanya spontan ketika setelah beberapa tahun ini tidak bertemu.

“Santai aja Fren, ndak kok, masih jauh” jawabku dengan tenang.

“Wah syukurkah, gw kirain gw aja yang jomlo di dunia ini, hahahaha” seloroh dia dengan lega. Lalu mengambil bangku di depanku.

Untuk perempuan seumuranku, memasuki awal umur 30an, jomlo dan menikah menjadi satu pembicaraan yang menarik sekaligus sensitif. Menarik bagiku karena senang mengamati sikap penerimaan diri yang berbeda tiap masing-masing orang. Dan topik sensitif bagi tipe orang yang telah lama menjomlo dan mendambakan seseorang yang mencintainya.

“Mon, apakah cewe yang sukses dalam karir dan bisnis akan susah mendapatkan seseorang yang mencintainya tanpa pamrih?”

“Kata orang, cewe kayak kita ini susah mendapatkan cowok loh Bu”

Hmn.. apakah memang seperti itu? dibalik kesuksesan seorang cowok kadang kala ada dibelakangnya ada seorang cewek yang mensupportnya dengan baik. Tetapi apakah di belakang kesuksesan seorang wanita, dapat terdapat seorang cowok yang baik untuk mendukungnya?

Aku tidak tahu jawabannya… hanya sekarang aku sangat berterima kasih kepada Allah yang telah mengirimkannya untuk bersamaku saat ini.

Terima kasih ya Cinta ;)

Older Posts »